Senin, 20 Mei 2013

Cinta Dunia, Takut Mati


                  Cinta Dunia, Takut Mati



Rasulullah Saw bersabda:
“Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat,
ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam)
bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian.
Mereka seperti gerombolan orang rakus
yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan
yang ada di sekitar mereka”.

Salah seorang shahabat bertanya:
“Apakah karena kami (kaum Muslimin)
ketika itu sedikit?”

Rasulullah menjawab:
“Tidak!
Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya.
Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan
(yang terombang-ambing).
(Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian,
dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahn’”.

Seorang shahabat Rasulullah bertanya:
“Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘wahn’ itu?”

Dijawab oleh Rasulullah Saw:
“Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati”.
 (At Tarikh Al Kabir, Imam Bukhari; Tartib Musnad Imam Ahmad, XXIV/31-32; “Sunan Abu Daud”, hadis No. 4279).


Hadis ini amat tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi kaum muslimin saat ini. Ada dua penyakit yang mendera kaum muslimin.
Pertama, adalah cinta dunia. 
Kedua adalah takut mati.
Dua penyakit inilah yang telah membuat kaum muslimin miskin kreativitas dan inovasinya dalam mengembangkan Islam. Sibuk dalam urusan mengejar dunia dan sekaligus takut mati. Betapa banyak dari kita yang enggan melepaskan kehidupan duniawi dan kenikmatan-kenikmatannya. Senantiasa mengejar gemerlap duniawi yang menyilaukan. Karir, bisnis, dan harta kerap menjadi ukuran kesuksesan seseorang dalam kehidupannya. Bersamaan dengan itu, saking cintanya kepada dunia, kaum muslimin mudah dihinggapi penyakit takut akan kematian.

Dua penyakit ini memang ibarat saudara kembar. Tak mungkin dipisahkan satu sama lain. Artinya bila seseorang terkena penyakit cinta dunia, pasti ia pun menderita penyakit takut mati. Satu sama lain saling mengisi. Dunia yang dijadikan sebagai arena mengukur keberhasilan, akan membawa seseorang menjadi semacam world oriented. Yang ada di kepalanya tak jauh dari urusan harta dan kenikmatan-kenikmatan duniawi semata. Bila kecintaan ini terus dipelihara, tanpa ada aturan yang mengendalikannya, kemungkinan besar ia akan menjadi hamba harta. Selalu mengukur kesuksesan dari banyaknya materi yang diperoleh.

Tak bisa dipungkiri, penyakit cinta dunia dan takut mati ternyata sudah lama hadir dalam kehidupan masyarakat kita. Akumulasi dari penyakit itu telah memunculkan gejala apriori terhadap ajaran-ajaran Islam di masyarakat kita. Kewibawaan hukum-hukum Islam tenggelam dalam arus kemaksiatan global. Betapa tidak, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, perzinahan, korupsi, suap-menyuap dan bentuk kemaksiatan lainnya senantiasa menghiasi kehidupan masyarakat kita. Memudarnya keterikatan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah —yang menjadi pedoman hidup seorang muslim— telah mengantarkan kaum muslimin menjadi liar. Yang pada gilirannya mudah dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam karena tak punya pegangan hidup. Meskipun kaum muslimin mayoritas. Supaya kita tidak terlanjur hanyut dalam arus kesesatan tersebut ada baiknya kita merenungkan sabda Rasulullah Saw:

“Telah kutinggalkan kepada kalian dua perkara
yang bila kalian berpegang-teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya: (ia adalah) Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.”
(Al Fathul Kabir, II/27).

( Edoy Permana )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar