Penyakit Mengingatkan Manusia bahwa
Ia Lemah dan Membutuhkan Allah
( Cuplikan Dari Harun Yahya )
Ketika
sakit, tubuh yang sebelumnya sehat dan kuat dikalahkan oleh virus dan bakteri.
Sebagaimana diketahui, banyak penyakit yang menyebabkan penderitaan dan
melemahkan tubuh. Dalam beberapa kasus, seseorang merasa telalu lemah untuk
bangkit dari tempat tidur atau melakukan tugas sehari-hari. Karena ia tidak
dapat membasmi virus yang tidak kelihatan itu, maka ia akan lebih mengerti akan
kelemahan dirinya dan bagaimana ia begitu membutuhkan Allah. Saat kesehatannya
menurun, seseorang yang sebelumnya berani menunjukkan kesombongannya kepada
Sang Pencipta, atau memamerkan kesehatan dan harta kekayaannya, menjadi sadar
akan kenyataan ini. Ia dapat lebih menghargai kekuatan Allah yang tak
terhingga, Pencipta segalanya.
- Penyakit Menjadikan Seseorang
Lebih Memahami bahwa Kesehatan adalah Berkah dan Kemurahan dari Allah
Hal
lain yang biasanya kita lupakan dalam kesibukan sehari-hari adalah betapa
besarnya karunia kesehatan. Seseorang yang diberi kesehatan terus-menerus dan
tidap pernah menderita, mudah saja mengatur keadaan. Akan tetapi, ketika ia
dihadapkan pada serangan penyakit yang tiba-tiba, ia menyadari bahwa kesehatan
merupakan berkah dari Allah. Hal itu disebabkan ia kehilangan sesuatu yang
membuatnya lebih menghargai nilai sesuatu yang hilang itu. Seperi yang
dikatakan Said Nursi-yang dikenal dengan nama Badiuzzaman (Keajaiban Zaman),
“Orang mengatakan bahwa sesuatu dikenali dari hal-hal yang berseberangan
dengannya. Sebagai contoh, jika tidak ada kegelapan, cahaya tidak akan dikenal
dan tidak menyenangkan sama sekali. Jika tidak ada rasa haus, tidak akan ada
istimewanya meminum air. Jika tidak ada penyakit, tidak ada kesenangan yang
didapat dari kesehatan.” (Cahaya ke-25, Obat ke-7)
- Penyakit
yang Sering Menjadikan Seseorang Benar-Benar Menyadari Kesementaraan Dunia Ini,
Kematian, dan Akhirat
Kebanyakan
manusia mengira bahwa menderita penyakit yang fatal atau kehilangan organ tubuh
adalah sebuah kesengsaraan. Seharusnya, penyakit dapat dimaknai bukan sebagai
kesengsaraan, tetapi untuk kesalamatan di akhirat dan untuk mengarahkan dirinya
hanya kepada Allah. Hal ini karena orang yang terkena penyakit serius biasanya
semakin waspada. Penderitaan itu menolong dirinya untuk menyadari kurangnya
perhatian yang menumpulkan kesadaran dirinya dan mendorongnya untuk merenungi
realitas akhirat. Orang yang demikian benar-benar memahami betapa tidak
berartinya kecintaan akan dunia ini serta dekatnya kematian. Alih-alih hidup
dalam ketidakbertanggungjawaban, penyakit yang tiba-tiba membuatnya semakin
memahami betapa pentingnya mendapatkan keridhaan Allah dan kehidupan akhirat
demi mencapat keselamatan.
- Penyakit
Diberikan untuk Do’a Seseorang dan Menariknya untuk Dekat kepada Allah
Saat
gejala penyakit semakin parah, seseorang mulai memikirkan kematian. Pikiran ini
menghantuinya sampai ia berusaha menghindarinya dengan sengaja. Dengan segala
ketulusan, ia meminta kepada Allah untuk disembuhkan. Bahkan, saat menderita
sakit yang tidak dapat disembuhkan, seseorang yang belum pernah berdo’a
sebelumnya tiba-tiba merasa perlu memohon kepada Allah untuk disembuhkan. Ia
berdo’a dengan tulus ikhlas. Inilah sebabnya, seseorang bisa dekat dengan
Tuhannya ketika dirinya tidak berdaya. Jika ia menunjukkan rasa syukurnya
setelah sembuh dan terus berdo’a dengan ikhlas, penyakitnya itu menjadi
kebaikan buatnya dan menjadi awal keimanan dirinya.
Allah
menyebutkan orang-orang yang kembali kepada-Nya dari kesengsaraan dalam ayat
berikut.
“Dan apabila Kami memberikan
nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia
ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.” (Fushshilat: 51)
“Dan apabila manusia ditimpa
bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri,
tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, di (kembali) melalui
(jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk
(menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang
melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus:
12)
“Dan apabila manusia disentuh
oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertobat kepada-Nya,
kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat dari-Nya,
tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya.” (ar-Ruum: 33)
Sebagaimana
ayat di atas, manusia seharusnya tidak hanya berdo’a di saat sulit, tetapi ia
harus tetap berdo’a setelah ujiannya diangkat. Dengan demikian, penyakit keras
atau cobaan itu dapat membuatnya mengakui kelemahannya dan bertobat di hadapan
Allah. Dengan demikian, ia menuju penyerahan seluruh hidupnya kepada Allah.
- Sebagai
Balasan atas Kesabaran yang Ditunjukkan di Kala Sakit, Allah Membalasnya dengan
Kehidupan Abadi di Dalam Surga
Seperti
yang kami sebutkan sejak awal, maksud lain mengapa Allah memberikan penderitaan
dengan penyakit adalah untuk menguji kesabaran dan keimanan seseorang kepada
Allah. Saat menderita suatu penyakit, sikap seorang muslim jelas berbeda dengan
orang-orang bodoh. Ia memiliki kesabaran, keyakinan, dan kesetiaan kepada
Allah. Ini dikarenakan mereka sadar bahwa pandangan yang mereka yakini di saat
mereka dalam kesempitan adalah untuk mendapatkan keridhaan Allah. Itulah
balasan terbesar di akhirat atas penyakitnya. Ia mencapai berkah yang tak
terhingga atas kehidupan surga sebagai balasan kesengsaraan sementaranya di
dunia ini.
Nabi
Ibrahim yang ikhlas ketika dihadapkan dengan penyakit adalah contoh yang baik
untuk semua orang- beriman,
“Dan apabila aku sakit, Dialah
Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan
aku (kembali).” (asy-Syu’araa`: 80-81)
Sikap
dan akhlaq menakjubkan yang ditunjukkan oleh Nabi Ayyub a.s. adalah contoh yang
lain. Seperti yang telah Al-Qur`an katakan kepada kita, Nabi Ayyub a.s.
menderita penyakit yang parah, namun penyakitnya itu malah memperkuat kesetiaan
dan keyakinannya kepada Allah. Inilah sifat yang menjadikannya salah seorang
nabi yang dipuji di dalam Al-Quran.
Dari
Al-Qur`an, kita juga tahu bahwa sebagai tambahan penyakit yang dideritanya,
Nabi Ayyub a.s. juga mengalami tipu daya setan. Berpikir untuk menguasai Nabi
Ayyub di saat ia lemah, setan mencoba menghasutnya untuk tidak lagi percaya
kepada Allah. Hal ini karena dalam kondisi sakit parah, biasanya sulit bagi
seseorang untuk memusatkan perhatiannya. Dengan mudah, ia dapat terbujuk oleh
setan. Akan tetapi, sebagai seorang nabi yang mengabdi sepenuh hati kepada
Allah, Nabi Ayyub a.s. berhasil lolos dari perangkap setan. Ia shalat dan
ikhlas berdo’a kepada Allah, memohon pertolongan-Nya. Di dalam Al-Qur`an, do’a
yang dicontohkan oleh Nabi Ayyub adalah,
“Dan (ingatlah kisah) Ayyub,
ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa
penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua
penyayang.’ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan
penyakit yang ada padanya....” (al-Anbiyaa`: 83-84)
Allah
menanggapi do’a tulus Nabi Ayyub dengan firman-Nya,
“Dan ingatlah akan hamba Kami
Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya, ‘Sesungguhnya, aku diganggu setan dengan
kepayahan dan siksaan.’ (Allah berfirman), ‘Hantamkanlah kakimu; inilah air
sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan
kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula
sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran.
‘Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan
janganlah kamu melanggar sumpah.’ Sesungguhnya, Kami dapati dia (Ayyub) seorang
yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya, dia amat taat (kepada
Tuhannya).”
Nabi
Ayyub benar-benar mendapatkan balasan atas keyakinannya kepada Allah,
pengabdiannya kepada-Nya dan tingkatan kemuliaannya. Ia juga menjadi contoh
yang baik untuk bagi semua muslim.
( Edoy Permana )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar