DZIKRULLOH
Bismillahirrahmanirrahiiim.....
Sebagian ulama lain membagi dzikir menjadi dua
yaitu: dzikir dengan lisan, dan dzikir di dalam hati. Dzikir lisan merupakan
jalan yang akan menghantar pikiran dan perasaan yang kacau menuju kepada
ketetapan dzikir
hati; kemudian dengan dzikir hati inilah semua
kedalaman ruhani akan kelihatan lebih luas, sebab
dalam wilayah hati ini Allah akan mengirimkan pengetahuan berupa ilham.
Imam Al Qusyairi mengatakan: "Jika seorang
hamba berdzikir dengan lisan dan hatinya, berarti dia adalah seorang yang
sempurna dalam sifat dan tingkah lakunya."
Dzikir kepada Allah bermakna, bahwa manusia sadar
akan dirinya yang berasal dari Sang Khalik, yang senantiasa mengawasi segala
perbuatannya. Dengan demikian manusia mustahil akan berani berbuat curang dan
maksiat dihadapan-Nya. Dzikir berarti kehidupan, karena manusia ini adalah
makhluq yang akan binasa (fana), sementara Allah senantiasa hidup, melihat,
berkuasa, dekat, dan mendengar, sedangkan menghubungkan (dzikir) dengan Allah,
berarti menghubungkan dengan sumber kehidupan ( Al Hayyu).
Sabda Rasulullah: "Perumpamaan orang yang
berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir seperti orang yang hidup dengan
orang yang mati." (HR. Bukhari)
Itulah gambaran dzikir yang dituturkan Rasulullah
Saw. Bahwa dzikir kepada Allah itu bukan sekedar ungkapan sastra, nyanyian,
hitungan-hitungan lafadz, melainkan suatu hakikat yang diyakini didalam jiwa
dan merasakan kehadiran Allah disegenap keadaan, serta berpegang teguh dan
menyandarkan kepada-Nya hidup dan matinya hanya untuk Allah semata.
Firman Allah:
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu
(jiwamu) dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan
suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
lalai." (Qs Al A'Raaf:205)
Aku hadapkan wajahku kepada wajah yang menciptakan
langit dan bumi, dengan lurus. Aku bukanlah orang yang berbuat syirik,
sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku kuserahkan (berserah diri)
kepada Tuhan sekalian Alam ...
Adapun hitungan-hitungan lafadz, seperti membaca
Asmaul Husna, membaca Al Qur'an, shalat, haji, zakat, dll, merupakan bagian
dari sarana dzikrullah, bukan dzikir itu sendiri, yaitu dalam rangka menuju
penyerahan diri (lahir dan bathin) kepada Allah. Tidak ada kemuliaan yang lebih
tinggi dari pada dzikir dan tidak ada nilai yang lebih berharga dari usaha
menghadirkan Allah dalam hati, bersujud karena keagungan-Nya, dan tunduk kepada
semua perintah-Nya serta menerima setiap keputusan-Nya Yang Maha Bijaksana
Dzikir berarti cinta kepada Allah, tidak ada
tingkatan yang lebih tinggi diatas kecintaan kepada Allah ..., maka
berdzikirlah kamu (dengan menyebut ) Allah, sebagaimana kamu ingat kepada orang
tua kalian, atau bahkan lebih dari itu ... (Al Baqarah: 200)
"Katakanlah, jika bapak-bapak,
anak&endash;anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah
dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
fasik." (Qs. At Taubah:24 )
Dzikrullah Merupakan Rohnya Seluruh Peribadatan
Pada tatanan spiritualitas Islam, dzikrullah
merupakan kunci membuka hijab dari kegelapan menuju cahya Ilahy. Al Qur'an
menempatkan dzikrullah sebagai pintu pengetahuan makrifatullah, sebagaimana
tercantum dalam surat Ali Imran 190-191.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang
berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau sambil
duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata) Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka"
Kalimat "yadzkurunallah" orang-orang
yang mengingat Allah, didalam 'tata bahasa arab' berkedudukan sebagai ma'thuf
(tempat bersandar) bagi kalimat-kalimat sesudahnya, sehingga dzikrullah
merupakan dasar atau azas dari semua perbuatan peribadatan baik berdiri, duduk
dan berbaring serta merenung (kontemplasi). Dengan demikian praktek dzikir
termasuk ibadah yang bebas tidak ada batasannya. Bisa sambil berdiri, duduk,
berbaring, atau bahkan mencari nafkah untuk keluarga sekalipun bisa dikatakan
berdzikir, jika dilandasi karena ingat kepada Allah. Juga termasuk kaum
intelektual yang sedang meriset fenomena alam, sehingga menemukan sesuatu yang
bermanfaat bagi seluruh manusia.
Dzikrullah merupakan sarana pembangkitan kesadaran
diri yang tenggelam, oleh sebab itu dzikir lebih komprehensif dan umum dari
berpikir. Karena dzikir melahirkan pikir serta kecerdasan jiwa yang luas, maka
dzikrullah tidak bisa hanya diartikan dengan menyebut nama Allah, akan tetapi
dzikrullah merupakan sikap mental spiritual mematuhkan dan memasrahkan kepada
Allah Swt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar