KIAT MENJAGA LISAN
Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan luput
dari pendengaran Allah.
Tiada satu patah katapun yang diucapkan kecuali
pasti memakan waktu.
Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan kecuali
dengan sangat pasti harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Maka, sebaik-baik dan seberuntung-beruntungnya
manusia adalah orang yang sangat mampu
memperhitungkan dan memperhatikan setiap kata yang
diucapkannya. Sungguh, alangkah sangat beruntungnya orang yang menahan setiap
kata-kata yang diucapkannya, alangkah sangat beruntungnya orang yang menahan
diri dari kesia-siaan berkata dan menggantinya dengan berdzikir kepada Allah.
Berkata sia-sia membuang waktu sedangkan berpikir membuka pintu hikmah.
Maka, alangkah beruntungnya orang yang kuasa
menahan lisannya dan menggantinya dengan berdzikir. Berkata sia-sia mengundang
bala, berdzikir kepada Allah mengundang rakhmat.
Rasulullah
SAW bersabda,:
"Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan
dirinya (tidak memberi manfaat),
kecuali kata-kata berupa amar ma'ruf dan nahi munkar
serta berdzikir kepada Allah azza wa Jalla"
(HR.
Tarmudzi).
Setiap manusia diberi modal oleh Allah dalam
mengarungi kehidupan ini. Modalnya adalah waktu, dan seberuntung-beruntungnya
manusia adalah orang yang memanfaatkan waktunya untuk keuntungan dunia dan
akhiratnya, sedangkan sebodoh-bodohnya manusia adalah orang yang
menghambur-hamburkan modalnya (waktu) tanpa guna. Setiap kali kita berbicara
pasti menggunakan modal kita, yaitu waktu. Maka, sebenarnya kemuliaan dan
kehormatan itu dapat dilihat dari apa yang diucapkannya.
Allah
SWT berfirman:
"Amat
sangat beruntung, bahagia, sukses,
orang yang khusu' dalam sholatnya,
dan orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh menahan diri
dari perbuatan dan perkataan sia-sia." (QS Al Mu'minun
[23]: 1- 3).
Sahabat-sahabat sekalian, salah satu ciri martabat
keislaman seseorang itu bisa dilihat dari bagaimana ia berjuang keras untuk
menhindarkan dirinya dari kesia-siaan. Maka semakin kita larut dalam
kesia-siaan maka, akan semakin tampak keburukan martabat keislaman kita dan
semakin akrab dengan bala bencana, yang selanjutnya hati pun akan keras membatu
dan akan lalai dari kebenaran.
Rasulullah sendiri dengan tegas melarang kita banyak
bicara yang sia-sia. :
"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara
selain berdzikir kepada Allah,
sesungguhnya memperbanyak perkataan
tanpa dzikir kepada Allah akan mengeraskan hati, dan
sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras."
(HR. Turmudji)
Kita lihat banyak orang berbicara tapi ternyata
tidak mulia dengan kata-katanya. Banyak orang berkata tanpa bisa menjaga diri,
padahal kata-kata yang terucapkan harus selalu dipertanggung-jawabkan, yang
siapa tahu akan menyeretnya ke dalam kesulitan. Sebelum berkata, kita yang
menawan kata-kata, tapi sesudah kata terucapkan kitalah yang ditawan kata-kata
kita.
Rasulullah bersabda, :
"Barangsiapa memperbanyak perkataan,
maka akan jatuh dirinya.
Maka barangsiapa jatuh dirinya,
maka akan banyak dosanya.
Barangsiapa banyak dosanya,
maka nerakalah tempatnya".
(HR.
Abu Hatim).
Dari
Sahl bin Sa'ad as Saidi, dia berkata:
"Barang siapa menjamin bagiku
"Barang siapa menjamin bagiku
apa yang ada diantara dua tulang rahangnya (lidah) dan yang
ada diantara kedua kakinya (kemaluan), niscaya akan aku jamin surga baginya."
(HR.
Bukhari).
Dalam
hadits lain Rasulullah bersabada,:
"Barangsiap menjaga dari kejahatan
qabqabnya, dzabdzabnya, dan laglagnya,
niscaya ia akan terjaga dari kejahatan seluruhnya."
(HR.
AdDailami)
Yang dimaksud qabqab adalah perut, Dzaabdzab
adalah kemaluan, dan Laqlaq adalah lidah.
Maka tampaknya adalah menjadi wajib bagi siapapun
yang ingin membersihkan hatinya, mengangkat derajatnya dalam pandangan Allah
Ajjaa Wa Jallaa, ingin hidup lebih ringan terhindar dari bala bencana, untuk
bersungguh-sungguh menjaga lisannya. Aktivitas berbicara bukanlah perkara
panjang atau pendeknya, tapi berbicara adalah perkara yang harus
dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.
Ada sebuah kisah, suatu waktu ada seseorang
bertanya tentang suatu tempat yang ternyata tempat tersebut adalah tempat
mangkal "wanita tuna susila". "Dimana sih tempat x ?" Lalu
si orang yang ditanya menunjuk ke arah suatu tempat dan hanya dengan "Tuh
!", lalu si penanya datang ke sana dan naudzubillah dia berbuat maksiat, dia
pulang, lalu dia sebarkan lagi kepada teman-temannya, lalu berbondong-bondong
orang ke sana, berganti hari, minggu, dan tahun. Maka setiap ada orang yang
bermaksiat di sana, orang yang menunjukkan itu memikul dosanya, padahal dia
hanya berkata : "Tuh !", cuman tiga huruf. Setiap hari orang berzina
di sana, maka pikul tuh dosanya, karena dia telah memberi jalan bagi orang lain
untuk bermaksiat dengan menunjukkan tempatnya. Jadi waspada, dengan lidah,
menggerakkannya memang mudah, tidak perlu pakai tenaga besar, tidak perlu pakai
biaya mahal, tapi bencana bisa datang kepada kita. Berbicara itu baik, tapi
diam jauh lebih bermutu. Dan ada yang lebih hebat dari diam, yaitu BERKATA
BENAR.
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari
akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam !" (HR. Bukhari
Muslim).
Sebab lisanlah yang banyak memasukkan kita ke neraka.
Rasulullah bersabda:
"Kebanyakan yang memasukkan ke neraka
adalah dua lobang, yaitu : mulut dan fardji
(kemaluan)"
(HR.
Turmudji dan Imam Ahmad).
Sedangkan Imam Hasan berkata bahwa, "Tidak
akan berarti agama seseorang bagi orang yang tidak menjaga lisannya".
Beliau melanjutkan, bahwa : "Baiknya Islam seseorang adalah dengan
meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya".
Untuk dapat menjaga lisan menjadi terjaga dan
bermutu syaratnya, yaitu :
1. Berkatalah dengan Perkataan yang Benar.
Kalau kita ingin berbicara dengan benar, maka
pastikan bahwa pembicaraan kita bersih dari bohong, bersih dari dusta.
Kata-kata kita ini harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Jangan pernah mau berkata apapun yang kita sendiri tidak yakin dengan apa yang
kita katakan. Jangan berusaha berkata-kata semata-mata agar orang
terkesima, terpesona, suka, karena semuanya tidak akan menolong kita.
Perkataan kita yakin dengan seyakin-yakinnya haruslah dapat
dipertanggungjawabkan. Bohong, dusta, sama sekali tidak akan menolong diri kita
ini, karena kedustaan mutlak diketahui oleh Alloh dan sangat mudah bagi ALlah
membeberkan segala kebohongan dan kedustaan kita.
Dusta tidak akan mengangkat derajat, bahkan
sebaliknya kalau Allah membeberkan kebohongan kita, kedustaan kita, maka, kita
akan menjadi orang yang tidak berharga sedikitpun. Untuk dapat orang
percaya pada kita tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa dibayar dengan harta,
sekali tampak bahwa kita pendusta, pembohong, tukang tipu, maka akan butuh
waktu yang sangat lama untuk mengembalikan kepercayaan orang pada kita. Dusta,
bohong, hanya membuat hidup jadi sempit. Camkan, bahwa semakin banyak kita
berbohong, semakin sering kita berdusta, maka kita telah membuat penjara, yang
membuat kita selau takut dusta kita terbuka, bahkan selanjutnya kita akan
berusaha untuk membuat dusta baru, bohong baru untuk menutupi kebohongan yang
telah kita lakukan.
Beranilah hidup tampil dengan apa adanya, biarlah
kita tampil begini adanya. Kenapa harus berdusta, lebih baik kita tidak
diterima, karena kita sudah mengatakan apa adanya daripada kita diterima karena
mendustainya. Jangan berat untuk tampil apa adanya. Daripada kita sibuk
merekayasa agar rekayasa kata, sangat pasti tidak akan menolong sedikitpun
"yu izzumantasyaa wa tudzillu man tasya" Yang mengangkat derajat
bukan kebohongan, bukan rekayasa kita, tapi Allah saja, dan sebaliknya yang
menghinakan juga Allah.
Cegahlah dusta walau sekecil apapun, kecuali
tentunya bohong yang dibenarkan oleh syariat. Misalnya, bohong dalam
rangka bersiasat kepada musuh, bohong ringan dengan maksud untuk mendamaikan
orang-orang yang bersengketa demi kebaikan. Bohong istri kepada suami
atau sebaliknya dengan maksud untuk menyembunyikan kejelekan, bohong untuk
membahagiakan dengan cara yang sah dan benar, tetapi bukan bohong untuk
menyembunyikan aib dan kesalahan. Berpikirlah sebelum berbicara. Jangan
pernah biarkan terlontar dari lisan ini sesuatu yang kita sendiri
meragukannya. Apalagi dengan sengaja kita berkata dusta,
naudzubillah. Demi Allah, Allah Maha Mendengar, tahu persis segala nita
di balik kata yang kita ucapkan. Kedustaan kita hanya masalah waktu saja
bagi Allah untuk membeberkannya, walau mati-matian kita menutupinya.
Maka, pastikan setiap pembicaraan kita untuk tidak ada dusta, walau sedikitpun.
Firman-Nya
:,
"Hai
orang-orang yang beriman,
bertaqwalah
kamu kepada Allah
dan
berkatalah dengan perkataan yang benar".
(QS
Al Baqarah[2]: 263).
Cukuplah
ayat ini sebagai dalil bagi hamba-hamba-Nya untuk selalu menyampaikan
kebenaran.
2. Berkatalah sesuai tempatnya.
"Liqulli maqaam maqaal walikulli maqaal
maqaam" Artinya, "Tiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap
tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula." Tidak setiap
kata sesuai di setiap tempat, sebaliknya tidak setiap tempat sesuai dengan
perkataan yang dibutuhkan. Hati-hati sebelum kita bicara, harus kita ukur
siapa yang diajak bicara. Berbicara dengan anak kecil tentu akan jauh
beda dengan ketika berbicara dengan orang tua. Berbicara dengan
remaja tentu akan jauh beda dengan ketika berbicara dengan guru kita.
Orang yang tidak terampil untuk membaca situasi, walau niatnya benar, hasilnya
bisa jadi kurang benar.
Lihatlah misalnya, ketika kita berbincang dengan
ponakan yang masih kecil, betapa kita akan berusaha menyesuaikan diri dengan
dunianya, gerakan tangan kita, raut muka kita. Hal ini karena dia tidak
akan mengerti kalau kita menggunakan gaya bahasa orang tua. Tapi tidak
mungkin kita memperlakukan guru kita dengan cara yang sama seperti kala kita
berbicara kepada keponakan kita. Oleh karena itu, niat untuk berdakwah dengan
mengetahui dalil-dalil Quran, memahami dan mengetahui banyak hadist, belumlah cukup.
Sebab kalau kita berbicara tanpa cara yang tepat, misalnya dengan mengobral
dalil, menunjukkan banyaknya hafalan saja, tidaklah cukup.
Dalam situasi orang berkumpul pasti punya kondisi
mental yang berbeda, ada orang yang sedang gembira, yang tentu saja akan
berbeda daya tangkapnya dengan yang sedang nestapa. Ada orang yang sedang
menikmati kesuksesannya, dan tentu saja akan berbeda dengan orang yang sedang
dilanda masalah dalam hidupnya. Oleh karena itu orang yang sehat berbeda
kemampuan menangkap idenya, dengan orang yang sedang sakit, orang yang sedang
segar bugar, ceria berbeda kemampuan memahaminya dengan orang sudah letih lahir
batinnya. Maka seseorang pembicara terbaik tidak cukup hanya berbica
benar, tapi juga harus sangat bisa memilih situasi kapan dia berbicara.
Mengapa banyak nasehat orang tua yang tidak
didengar oleh anaknya yang masih remaja? Saya khawatir orang tua merasa
benar dengan apa yang dikatakannya, tapi tidak benar dalam membaca situasi dan
kondisi remaja yang sedang diajak bicara, yang notabene kondisinya sedang
labil. Memang aneh kita ini, ketika anak masih kecil, orang tua akan
berusaha beraktivitas, bersikap, dan berbicara agar dapat dipahami oleh si
kecil, tetapi menjelang remaja, pada saat perpindahan usia, perpindahan masa,
ia tidak berusaha beradaptasi dengan kondisi anaknya. maka disinilah kita
perlu ilmu. Sebab dengan ilmu yang memadai setiap orang dapat berwibawa
di depan anak-anaknya.
Ada banyak cara dalam berkomunikasi, dan
berbahagialah jikalau kita diberi keterampilan oleh Allah untuk berbicara
sesuai dengan kondisi dan tempatnya.Kita berdialog dengan petani, tentu saja
berbeda dialognya dengan seorang eksekutif. Berada di lingkungan santri
yang fasih bahasa Arab, tentu saja berbeda kalau kita harus berdialog dengan
orang di pasar yang tidak mengerti bahasa Arab. Seorang pendakwah
misalnya, kalau orangnya tidak arif, ia akan sibuk mengobral dalil, mengobral
kata-kata, walau tentu saja tidak semuanya salah, tapi apalah artinya jika kita
meletakkan sesuatu tidak sesuai tempatnya.
Pernah terjadi suatu ketika Umar bin Khathab
bertemu dengan Abu Hurairah, "Mau pergi kemana engkau, hei Abu
Hurairah?" Tanya Umar"Aku mau ke pasar, akan aku umumkan apa
yang kudengar dari Rasulullah SAW," Jawab Abu Hurairah. "Apa kata
Beliau ?", Umar bertanya lagi "Setiap orang yang mengucapkan Laa
Ilaaha Illallah, maka dakhalal Jannah, akan masuk Surga".
"Tunggu dulu, wahai sahabat", cegah Umar.
Umar bin Khathab pun kemudian pergi menemui Rasulullah. "Yaa Rasulullah,
apakah benar engkau bersabda demikian (sebagaimana yang disampaikan oleh Abu
Hurairah)?" Tanyanya. Dan Rasul pun meng-iya-kan. "Tetapi, Yaa
Rasul, saya keberatan kalau sabdamu itu disebarkan kepada sembarang orang
karena dikuatirkan akan salah dalam menafsirkannya." Mendengar keberatan
Umar itu, Rasul tercenung, lalu sesaat kemudian bersabda, "Yaa, aku setuju
dengan pendapatmu".Abu Hurairah pun lalu dilarang untuk mengumumkannya di
pasar.
Demikianlah, perkataannya benar, sesuai dengan
kenyataan. Akan tetapi, karena dikuatirkan akan salah penafsiran orang
yang mendengarnya, karena diucapkan tidak pada tempatnya.
3. Jagalah Kehalusan Tutur Kata.
Orang yang lisannya bermutu haruslah berkemampuan
memperhalus dan menjaga kata-katanya tidak menjadi duri atau tidak bagai pisau
silet yang siap melukai orang lain. Betapa banyak kata-kata yang keluar
yang rasa-rasanya ketika mengeluarkannya begitu gampang, begitu enak, tapi yang
mendengar malah sebaliknya, hatinya tercabik-cabik, tersayat-sayat perasaannya,
begitu perih dan luka tertancap dihatinya. Seakan memberi nasehat, tapi
bagi yang mendengar apakah merasa dinasehati atau malah merasa dizhalimi.
Hati-hati, ibu kepada anak, suami kepada istri,
istri kepada suami, guru kepad murid, atasan kepada bawahan. Kadang kelihatannya
seperti sedang memberi nasehat tetapi sesungguhnya kalau tidak hati-hati dalam
memilih kata, justru kita sedang mengumbar duri-duri pisau 'cutter' yang tajam
mengiris.
Rasulullah bersabda :
"Jiwa
seorang mukmin
bukanlah
pencela, pengutuk, pembuat perbuatan keji dan berlidah kotor"
(HR.
Turmudji dan Ibnu Mas'ud).
Bahkan bagi orang kafir sekalipun, Nabi melarang
mencelanya. Dikisahkan bahwa ketika beberapa orang kafir terbunuh dalam
perang Badar,
Nabi bersabda :
"Janganlah kamu memaki mereka,
dari
apa yang kamu katakan,
dan
kamu menyakiti orang-orang yang hidup.
Ketahuilah
bahwa kekotoran lidah itu tercela"
(HR.
An Nasai).
(
Edoy Permana )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar