Kamis, 25 April 2013

KIAT MENJAGA LISAN

                           KIAT MENJAGA LISAN

Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan luput dari pendengaran Allah.
Tiada satu patah katapun yang diucapkan kecuali pasti memakan waktu.
Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan kecuali dengan sangat pasti harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Maka, sebaik-baik dan seberuntung-beruntungnya manusia adalah orang yang sangat mampu
memperhitungkan dan memperhatikan setiap kata yang diucapkannya. Sungguh, alangkah sangat beruntungnya orang yang menahan setiap kata-kata yang diucapkannya, alangkah sangat beruntungnya orang yang menahan diri dari kesia-siaan berkata dan menggantinya dengan berdzikir kepada Allah. Berkata sia-sia membuang waktu sedangkan berpikir membuka pintu hikmah.
Maka, alangkah beruntungnya orang yang kuasa menahan lisannya dan menggantinya dengan berdzikir. Berkata sia-sia mengundang bala, berdzikir kepada Allah mengundang rakhmat.

Rasulullah SAW bersabda,:
"Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat),
kecuali kata-kata berupa amar ma'ruf dan nahi munkar serta berdzikir kepada Allah azza wa Jalla"
(HR. Tarmudzi).

Setiap manusia diberi modal oleh Allah dalam mengarungi kehidupan ini. Modalnya adalah waktu, dan seberuntung-beruntungnya manusia adalah orang yang memanfaatkan waktunya untuk keuntungan dunia dan akhiratnya, sedangkan sebodoh-bodohnya manusia adalah orang yang menghambur-hamburkan modalnya (waktu) tanpa guna. Setiap kali kita berbicara pasti menggunakan modal kita, yaitu waktu. Maka, sebenarnya kemuliaan dan kehormatan itu dapat dilihat dari apa yang diucapkannya.

Allah SWT berfirman:
 "Amat sangat beruntung, bahagia, sukses,
orang yang khusu' dalam sholatnya,
dan orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh menahan diri dari perbuatan dan perkataan sia-sia." (QS Al Mu'minun [23]: 1- 3).

Sahabat-sahabat sekalian, salah satu ciri martabat keislaman seseorang itu bisa dilihat dari bagaimana ia berjuang keras untuk menhindarkan dirinya dari kesia-siaan. Maka semakin kita larut dalam kesia-siaan maka, akan semakin tampak keburukan martabat keislaman kita dan semakin akrab dengan bala bencana, yang selanjutnya hati pun akan keras membatu dan akan lalai dari kebenaran.

Rasulullah sendiri dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia. :
"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berdzikir kepada Allah,
sesungguhnya memperbanyak perkataan
tanpa dzikir kepada Allah akan mengeraskan hati, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras."
 (HR. Turmudji)

Kita lihat banyak orang berbicara tapi ternyata tidak mulia dengan kata-katanya. Banyak orang berkata tanpa bisa menjaga diri, padahal kata-kata yang terucapkan harus selalu dipertanggung-jawabkan, yang siapa tahu akan menyeretnya ke dalam kesulitan. Sebelum berkata, kita yang menawan kata-kata, tapi sesudah kata terucapkan kitalah yang ditawan kata-kata kita.

Rasulullah bersabda, :
"Barangsiapa memperbanyak perkataan,
maka akan jatuh dirinya.
Maka barangsiapa jatuh dirinya,
maka akan banyak dosanya.
Barangsiapa banyak dosanya,
maka nerakalah tempatnya".
(HR. Abu Hatim).

Dari Sahl bin Sa'ad as Saidi, dia berkata:
 "Barang siapa menjamin bagiku
apa yang ada diantara dua tulang rahangnya (lidah) dan yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan), niscaya akan aku jamin surga baginya."
(HR. Bukhari).

Dalam hadits lain Rasulullah bersabada,:
"Barangsiap menjaga dari kejahatan
qabqabnya, dzabdzabnya, dan laglagnya,
niscaya ia akan terjaga dari kejahatan seluruhnya."
(HR. AdDailami)

Yang dimaksud qabqab adalah perut, Dzaabdzab adalah kemaluan, dan Laqlaq adalah lidah.

Maka tampaknya adalah menjadi wajib bagi siapapun yang ingin membersihkan hatinya, mengangkat derajatnya dalam pandangan Allah Ajjaa Wa Jallaa, ingin hidup lebih ringan terhindar dari bala bencana, untuk bersungguh-sungguh menjaga lisannya. Aktivitas berbicara bukanlah perkara panjang atau pendeknya, tapi berbicara adalah perkara yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.

Ada sebuah kisah, suatu waktu ada seseorang bertanya tentang suatu tempat yang ternyata tempat tersebut adalah tempat mangkal "wanita tuna susila". "Dimana sih tempat x ?" Lalu si orang yang ditanya menunjuk ke arah suatu tempat dan hanya dengan "Tuh !", lalu si penanya datang ke sana dan naudzubillah dia berbuat maksiat, dia pulang, lalu dia sebarkan lagi kepada teman-temannya, lalu berbondong-bondong orang ke sana, berganti hari, minggu, dan tahun. Maka setiap ada orang yang bermaksiat di sana, orang yang menunjukkan itu memikul dosanya, padahal dia hanya berkata : "Tuh !", cuman tiga huruf. Setiap hari orang berzina di sana, maka pikul tuh dosanya, karena dia telah memberi jalan bagi orang lain untuk bermaksiat dengan menunjukkan tempatnya. Jadi waspada, dengan lidah, menggerakkannya memang mudah, tidak perlu pakai tenaga besar, tidak perlu pakai biaya mahal, tapi bencana bisa datang kepada kita. Berbicara itu baik, tapi diam jauh lebih bermutu. Dan ada yang lebih hebat dari diam, yaitu BERKATA BENAR.

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam !" (HR. Bukhari Muslim).

Sebab lisanlah yang banyak memasukkan kita ke neraka. Rasulullah bersabda:
"Kebanyakan yang memasukkan ke neraka
adalah dua lobang, yaitu : mulut dan fardji
(kemaluan)"
(HR. Turmudji dan Imam Ahmad).

Sedangkan Imam Hasan berkata bahwa, "Tidak akan berarti agama seseorang bagi orang yang tidak menjaga lisannya". Beliau melanjutkan, bahwa : "Baiknya Islam seseorang adalah dengan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya".

Untuk dapat menjaga lisan menjadi terjaga dan bermutu syaratnya, yaitu :
1. Berkatalah dengan Perkataan yang Benar.
Kalau kita ingin berbicara dengan benar, maka pastikan bahwa pembicaraan kita bersih dari bohong, bersih dari dusta.  Kata-kata kita ini harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.  Jangan pernah mau berkata apapun yang kita sendiri tidak yakin dengan apa yang kita katakan.  Jangan berusaha berkata-kata semata-mata agar orang terkesima, terpesona, suka, karena semuanya tidak akan menolong kita.  Perkataan kita yakin dengan seyakin-yakinnya haruslah dapat dipertanggungjawabkan. Bohong, dusta, sama sekali tidak akan menolong diri kita ini, karena kedustaan mutlak diketahui oleh Alloh dan sangat mudah bagi ALlah membeberkan segala kebohongan dan kedustaan kita.

Dusta tidak akan mengangkat derajat, bahkan sebaliknya kalau Allah membeberkan kebohongan kita, kedustaan kita, maka, kita akan menjadi orang yang tidak berharga sedikitpun.  Untuk dapat orang percaya pada kita tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa dibayar dengan harta, sekali tampak bahwa kita pendusta, pembohong, tukang tipu, maka akan butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan kepercayaan orang pada kita. Dusta, bohong, hanya membuat hidup jadi sempit. Camkan, bahwa semakin banyak kita berbohong, semakin sering kita berdusta, maka kita telah membuat penjara, yang membuat kita selau takut dusta kita terbuka, bahkan selanjutnya kita akan berusaha untuk membuat dusta baru, bohong baru untuk menutupi kebohongan yang telah kita lakukan.

Beranilah hidup tampil dengan apa adanya, biarlah kita tampil begini adanya. Kenapa harus berdusta, lebih baik kita tidak diterima, karena kita sudah mengatakan apa adanya daripada kita diterima karena mendustainya. Jangan berat untuk tampil apa adanya.  Daripada kita sibuk merekayasa agar rekayasa kata, sangat pasti tidak akan menolong sedikitpun "yu izzumantasyaa wa tudzillu man tasya" Yang mengangkat derajat bukan kebohongan, bukan rekayasa kita, tapi Allah saja, dan sebaliknya yang menghinakan juga Allah.

Cegahlah dusta walau sekecil apapun, kecuali tentunya bohong yang dibenarkan oleh syariat.  Misalnya, bohong dalam rangka bersiasat kepada musuh, bohong ringan dengan maksud untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa demi kebaikan.  Bohong istri kepada suami atau sebaliknya dengan maksud untuk menyembunyikan kejelekan, bohong untuk membahagiakan dengan cara yang sah dan benar, tetapi bukan bohong untuk menyembunyikan aib dan kesalahan. Berpikirlah sebelum berbicara.  Jangan pernah biarkan terlontar dari lisan ini sesuatu yang kita sendiri meragukannya.  Apalagi dengan sengaja kita berkata dusta, naudzubillah.  Demi Allah, Allah Maha Mendengar, tahu persis segala nita di balik kata yang kita ucapkan.  Kedustaan kita hanya masalah waktu saja bagi Allah untuk membeberkannya, walau mati-matian kita menutupinya.  Maka, pastikan setiap pembicaraan kita untuk tidak ada dusta, walau sedikitpun.

Firman-Nya :,
"Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kamu kepada Allah
dan berkatalah dengan perkataan yang benar".
(QS Al Baqarah[2]: 263).

Cukuplah ayat ini sebagai dalil bagi hamba-hamba-Nya untuk selalu menyampaikan kebenaran.

2. Berkatalah sesuai tempatnya.
"Liqulli maqaam maqaal walikulli maqaal maqaam" Artinya, "Tiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula." Tidak setiap kata sesuai di setiap tempat, sebaliknya tidak setiap tempat sesuai dengan perkataan yang dibutuhkan.  Hati-hati sebelum kita bicara, harus kita ukur siapa yang diajak bicara. Berbicara dengan anak kecil tentu akan jauh beda  dengan ketika berbicara dengan orang tua.  Berbicara dengan remaja tentu akan jauh beda dengan ketika berbicara dengan guru kita.  Orang yang tidak terampil untuk membaca situasi, walau niatnya benar, hasilnya bisa jadi kurang benar.

Lihatlah misalnya, ketika kita berbincang dengan ponakan yang masih kecil, betapa kita akan berusaha menyesuaikan diri dengan dunianya, gerakan tangan kita, raut muka kita.  Hal ini karena dia tidak akan mengerti kalau kita menggunakan gaya bahasa orang tua.  Tapi tidak mungkin kita memperlakukan guru kita dengan cara yang sama seperti kala kita berbicara kepada keponakan kita. Oleh karena itu, niat untuk berdakwah dengan mengetahui dalil-dalil Quran, memahami dan mengetahui banyak hadist, belumlah cukup.  Sebab kalau kita berbicara tanpa cara yang tepat, misalnya dengan mengobral dalil, menunjukkan banyaknya hafalan saja, tidaklah cukup.

Dalam situasi orang berkumpul pasti punya kondisi mental yang berbeda, ada orang yang sedang gembira, yang tentu saja akan berbeda daya tangkapnya dengan yang sedang nestapa.  Ada orang yang sedang menikmati kesuksesannya, dan tentu saja akan berbeda dengan orang yang sedang dilanda masalah dalam hidupnya.  Oleh karena itu orang yang sehat berbeda kemampuan menangkap idenya, dengan orang yang sedang sakit, orang yang sedang segar bugar, ceria berbeda kemampuan memahaminya dengan orang sudah letih lahir batinnya.  Maka seseorang pembicara terbaik tidak cukup hanya berbica benar, tapi juga harus sangat bisa memilih situasi kapan dia berbicara.

Mengapa banyak nasehat orang tua yang tidak didengar oleh anaknya yang masih remaja?  Saya khawatir orang tua merasa benar dengan apa yang dikatakannya, tapi tidak benar dalam membaca situasi dan kondisi remaja yang sedang diajak bicara, yang notabene kondisinya sedang labil.  Memang aneh kita ini, ketika anak masih kecil, orang tua akan berusaha beraktivitas, bersikap, dan berbicara agar dapat dipahami oleh si kecil, tetapi menjelang remaja, pada saat perpindahan usia, perpindahan masa, ia tidak berusaha beradaptasi dengan kondisi anaknya.  maka disinilah kita perlu ilmu.  Sebab dengan ilmu yang memadai setiap orang dapat berwibawa di depan anak-anaknya.

Ada banyak cara dalam berkomunikasi, dan berbahagialah jikalau kita diberi keterampilan oleh Allah untuk berbicara sesuai dengan kondisi dan tempatnya.Kita berdialog dengan petani, tentu saja berbeda dialognya dengan seorang eksekutif.  Berada di lingkungan santri yang fasih bahasa Arab, tentu saja berbeda kalau kita harus berdialog dengan orang di pasar yang tidak mengerti bahasa Arab.  Seorang pendakwah misalnya, kalau orangnya tidak arif, ia akan sibuk mengobral dalil, mengobral kata-kata, walau tentu saja tidak semuanya salah, tapi apalah artinya jika kita meletakkan sesuatu tidak sesuai tempatnya.

Pernah terjadi suatu ketika Umar bin Khathab bertemu dengan Abu Hurairah, "Mau pergi kemana engkau, hei Abu Hurairah?"  Tanya Umar"Aku mau ke pasar, akan aku umumkan apa yang kudengar dari Rasulullah SAW," Jawab Abu Hurairah. "Apa kata Beliau ?", Umar bertanya lagi "Setiap orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka dakhalal Jannah, akan masuk Surga".     "Tunggu dulu, wahai sahabat", cegah Umar.  Umar bin Khathab pun kemudian pergi menemui Rasulullah. "Yaa Rasulullah, apakah benar engkau bersabda demikian (sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Hurairah)?" Tanyanya.  Dan Rasul pun meng-iya-kan. "Tetapi, Yaa Rasul, saya keberatan kalau sabdamu itu disebarkan kepada sembarang orang karena dikuatirkan akan salah dalam menafsirkannya." Mendengar keberatan Umar itu, Rasul tercenung, lalu sesaat kemudian bersabda, "Yaa, aku setuju dengan pendapatmu".Abu Hurairah pun lalu dilarang untuk mengumumkannya di pasar.

Demikianlah, perkataannya benar, sesuai dengan kenyataan.  Akan tetapi, karena dikuatirkan akan salah penafsiran orang yang mendengarnya, karena diucapkan tidak pada tempatnya.

3. Jagalah Kehalusan Tutur Kata.
Orang yang lisannya bermutu haruslah berkemampuan memperhalus dan menjaga kata-katanya tidak menjadi duri atau tidak bagai pisau silet yang siap melukai orang lain.  Betapa banyak kata-kata yang keluar yang rasa-rasanya ketika mengeluarkannya begitu gampang, begitu enak, tapi yang mendengar malah sebaliknya, hatinya tercabik-cabik, tersayat-sayat perasaannya, begitu perih dan luka tertancap dihatinya.  Seakan memberi nasehat, tapi bagi yang mendengar apakah merasa dinasehati atau malah merasa dizhalimi.

Hati-hati, ibu kepada anak, suami kepada istri, istri kepada suami, guru kepad murid, atasan kepada bawahan.  Kadang kelihatannya seperti sedang memberi nasehat tetapi sesungguhnya kalau tidak hati-hati dalam memilih kata, justru kita sedang mengumbar duri-duri pisau 'cutter' yang tajam mengiris.

Rasulullah bersabda :
"Jiwa seorang mukmin
bukanlah pencela, pengutuk, pembuat perbuatan keji dan berlidah kotor" 
(HR. Turmudji dan Ibnu Mas'ud).

Bahkan bagi orang kafir sekalipun, Nabi melarang mencelanya.  Dikisahkan bahwa ketika beberapa orang kafir terbunuh dalam perang Badar, 

Nabi bersabda :
 "Janganlah kamu memaki mereka,
dari apa yang kamu katakan,
dan kamu menyakiti orang-orang yang hidup. 
Ketahuilah bahwa kekotoran lidah itu tercela"
(HR. An Nasai).

( Edoy Permana )

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar