TAKABBUR
SOMBONG atau takabur (takabbur) adalah
sifat hati yang terkeji (madzmumi) dan merupakan satu daripada penyakit hati
yang membawa akibat kebinasaan diri. Pengertian tentang takabur dapat difahami
dari maksud beberapa hadist yang berikut :
1. Rasulullah bersabda, "Dianggap sebagai takabur itu
ialah menolak apa yang benar dan mengaggap hina kepada orang lain". (HR.
Muslim).
2. Bersabda Rasulullah S.A.W kepada sahabatnya, Abu Dzar :
"Takabur itu meninggalkan kebenaran dan engkau mengambil selain kebenaran.
Engkau melihat orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama
dengan kehormatanmu, darahnya tidak sama dengan darahmu".
3. Rasulullah S.A.W bertanya kepada sekumpulan Sahabat,
"Tahukah kamu, orang gila yang sebenar-benarnya?" Para Sahabat
menjawab, "Tidak tahu, ya Rasulullah". Lalu Rasulullah menjelaskan,
"Orang gila ialah orang yang berjalan dengan takabur, memandang rendah
kepada orang lain, membusungkan dada, mengharapkan syurga sambil membuat
maksiat dan kejahatannya membuat orang tidak aman dan kebaikanya tidak pernah
diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya".
Berdasarkan kisah di dalam al-Qur'an,
makhluk yang pertama yang diserang dan menjadi mangsa penyakit takabur ialah
Iblis (la'natullah). Walaupun diperintah oleh Allah SWT, Iblis enggan
menghormati Adam a. s (manusia dan nabi Allah yang pertama) karena dia menganggap
dirinya lebih mulia daripada Adam. Katanya, "Aku lebih baik daripadanya
(Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan daripada
tanah" (QS 7:12).
Iblis lalu dilaknat oleh Allah SWT karena
sifat takaburnya itu. Sekurang-kurangnya dua akibat kecelakaan yang menimpa
Iblis karena ketakaburnya :
1. Ia dimasukkan ke dalam golongan kafir. Allah Taala
berfirman : Ia (Iblis) enggan dan menyombong diri (takabbur) dan ia termasuk
golongan yang kafir (QS 2:34).
2. Ia dimasukkan ke dalam golongan orang yang terhina dan
tidak layak tinggal di syurga. Allah berfirman : Turunlah engkau dari syurga
itu karena tidak patut (tidak layak) bagimu menyombongkan diri di dalamnya,
maka keluarlah. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang hina. (QS 7:13).
Sifat takabur itu dapat dikenali dari
tutur kata dan tingkah laku bersumber dari lintasan hati yang mengandung rasa
tinggi atau besar diri di samping merendah-kan mertabat orang lain atau menolak
kebenaran.
Mengikut Abu Yazid: "Seorang hamba
itu selama masih mempunyai sangkaan, bahwa antara makhluk ada orang yang lebih
buruk atau lebih jahat amalannya daripada dirinya sendiri, maka orang itu
bersifat takabur". Lalu Abu Yazid ditanya, "Kapan seseorang itu dapat
disebut sebagai bertawadhuk(rendah hati)?" Abu Yazid menjawab,
"Ketika ia tidak tahu bagaimana kedudukan serta keadaan dirinya
sendiri". Lawan sifat takbur itu ialah tawadhuk (tawadhdhuk atau dhi'ah),
yaitu lintasan rasa rendah dan hina diri, termasuk pernyataan lewat perbuatan
dan lisan. Dengan menyuburkan sifat dan sikap merendah hati dan pasrah kepada
Allah, seseorang akan dapat mencegah penyakit takabur dan juga ujub.
Tawaduk itu adalah sifat hati yang
terpuji (mahmudi). Sifat ini membawa kemuliaan. Orang yang berkenaan akan
mendapat kedudukan (derajat) yang tinggi di sisi Allah. Rasulullah S.A.W
bersabda, mafhumnya : Allah tidak akan memberi tambahan kepada seorang hamba
karena gemar memberi maaf kecuali kemulian, dan tiada seorang pun yang
merendahkan diri karena mengharapkan keridhaan Allah kecuali Allah akan memberi
tingkat yang tinggi kepadanya (HR. Muslim).
Takabur dan tawaduk masing-masing ada
kalanya bersifat umum dan ada kalanya bersifat khusus. Orang yang merasakan
tidak memadai dengan kerendahan atau kesederhanaan hidupnya dikatakan terjatuh
ke dalam Takabur Umum. Sebaliknya, orang yang merasakan sudah berada dengan
keperluan hidup sekadar yang ada, walaupun yang rendah atau sederhana mutunya,
dia termasuk dalam tawaduk umum.
Adapun Takabur Khusus bersifat tertutup,
tidak mau menerima, malah tidak bersedia untuk menerima kebenaran dari orang
lain. Lawannya ialah Tawaduk Khusus yang bersifat terbuka, sentiasa melatih
diri untuk menerima kebenaran tanpa mengira ada orang yang membawa kebenran itu
hina atau mulia.
Untuk mempertahankan tawaduk umum, kita
hendaklah sentiasa menginggati pengalaman pahit yang pernah menimpa diri kita
sejak mula dilahirkan dan senantiasa menginsafi diri kita sebagai hamba Allah, sekurang-kurangnya
sebagaimana yang dikatakan oleh ulama : "Asal kamu dari setitik mani
(nuthfah) yang anyir. Akhir kamu menjadi bangkai (mayat) yang busuk. Dan, di
antara keduanya, sepanjang hayat, kamu menanggung kekotoran (najis) di dalam
perut kamu".
Untuk mempertahan tawaduk khusus pula
kita hendaklah sentiasa mengingati siksaan Allah Taala sebagai pembalasan,
sekiranya kita menyeleweng daripada kebenaran dan berpanjangan di dalam
kebatilan. Berbeda dengan sifat-sifat hati lain yang hanya mengotori amal
ibadah dan memudaratkan perkara "cabang" saja dalam agama, takabur
memudaratkan perkara "pokok", mengotori agama dan akidah.
Sekurang-kurangnya takabur mengakibatkan empat mudharat :
1. Terhalang dari mendapat kebenaran dan buta mata hati
dalam makrifat terhadap ayat-ayat yang mengandung pengertian tentang hukum dan
hikmat Allah. Allah Taala berfirman, mafhumnya: Aku akan memalingkan mereka
dari ayat-ayat-Ku orang yang menyombongkan dirinya (takabur) di muka bumi tanpa
alasan yang benar. (QS 7:146)
Demikianlah
Allah menguncikan hati setiap orang yang takabur lagi sewenang-wenang. (QS
40:35)
2. dimurkai dan dibenci oleh Allah Taala, sebagaimana
firman-Nya yang bermaksud : Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang
membesarkan dirinya (takbur). (QS 16:23)
Diriwayatkan
: Nabi Musa a. s telah bertanya kepada Allah, "Hai, Tuhanku. Siapakah di
antara makhluk-Mu yang paling Engkau murkai?". Allah Taala berfirman,
mafhumnya: Orang takbur hatinya, kasar lidahnya, terkelip-kelip matanya, bakhil
tangannya dan jahat perangainya".
3. Mendapat kehinaan dan siksaan di dunia sebelum di
akhirat. Bersyair Khatimul-Asham, "Jauhkan dirimu dari mati dalam tiga
keadaan, yaitu takabur, loba dan ujub. Sesungguhnya, orang yang takabur itu
tidak dikeluarkan oleh Allah Taala dari dunia sehingga dia diperlihatkan dulu
penghinaan ke atasnya kepada sekurang-kurangnya keluarganya sendiri. Orang yang
loba tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah merasa sangat memerlukan
secuil roti dan seteguk air karena terlalu lapar dan dahaga tetapi tak lalu
ditelannya. Dan, orang yang ujub juga tidak dikeluarkan dari dunia melainkan
setelah diperlihatkan dirinya bergelimang dengan air kencing dan tahinya
sendiri".
Gambaran
penghinaan di akhirat pula terdapat dalam hadist dari Abu Hurairah r. a.
Katanya, Rasulullah bersabda : "Orang-orang yang sombong, keras kepala dan
takabur, akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti kumpulan semut,
dipijak-pijak oleh manusia karena hinanya mereka di sisi Allah Ta'ala".
4. Disiksa di akhirat dan dimasukkan ke dalam neraka,
sebagaimana firman Allah Taala (tersebut dalam Hadis Qudsi), mafhumnya:
Kebesaran itu selindang-Ku dan 'adzmat (keagungan) itu kainku. Sesiapa merebut
salah satu daripada yang dua itu, Aku masukkan dia ke neraka Jahannam.
Rasulullah bersabda : "Tiada akan
masuk syurga orang yang ada di dalam hatinya seberat biji S.A.Wi daripada sifat
takabur" (HR. Muslim). Mengikut hadist yang lain, Rasulullah bersabda :
"Wahai Abu Dzar, barangsiapa mati dalam keadaan hatinya ada sebesar debu
sahaja dari sifat takabur, dia tidak akan tercium bau syurga kecuali bila
bertaubat sebelum maut menjemputnya".
Biasanya faktor yang menimbulkan rasa
takbur di hati seseorang itu ialah sesuatu kelebihan atau keistimewaan yang
dimilikinya. Banyak faktornya. diantaranya sebagaimana yang dilantunkan oleh
Imam al-Ghazali, yiaitu : Ilmu, ibadah / amal, keturunan, kejelitaan atau
ketampanan rupa paras, kekayaan harta benda, kekuasaan / kekuatan dan banyak
pengikut / kaum keluarga.
Demikianlah,
memang sudah jelas sekali, sebagaimana yang telah berlaku. Iblis menjadi
takabur karena faktor keturunannya (asal kejadiannya), Fir'aun karena
kekuasaannya dan Qarun karena hartanya. Jadi, sesiapa yang memiliki kelebihan
atau keistimewaan dalam hal-hal yang tersebut, hendaklah berhati-hati agar
tidak terhanyut di lautan ghaflah atau menjadi lupa daratan sehingga hatinya
dihinggapi penyakit takabur. Edoy Permana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar